Sabtu, 06 Agustus 2011

Kapan hujan?


Berawan putih dan langit biru cerah. Cuaca di kawasan Pringgodani, Yogyakarta tepatnya dua hari yang lalu. Panas. Gerah dan lapar. Mampirlah Lyzy ke warteg langganannya, menu favoritnya adalah soto Lamongan. Soto yang berkuah kental, padat berenergi. Mengapa? Karena kuah soto bukan hanya air dan bumbu-bumbu soto saja namun dikolaborasikan dengan santan dari kelapa parut. Warna kuning ulah dari kunyit semakin menggoda mata untuk menyantap. Siang yang sama dengan hari biasanya. Lyzy menikmati soto Lamongan dengan porsi nasi selalu setengah porsi dan es teh yang manisnya satu sendok gula pasir. Ditemani ibu pemilik warung yang selalu setia menunggui Lyzy saat makan. Meskipun Lyzy datang dan makan soto sendirian tanpa teman cewek apalagi cowok, Lyzy bisa menghabiskan waktu 1 jam lebih di warteg itu.

Bukan hanya duduk dan makan saja, Lyzy selalu berbincang-bincang tentang masalah-masalah kecil. Hari ini tidak hujan ya bu? Ya itulah pertanyaan pertama yang rutin Lyzy ajukan sebagai pembuka perbincangan.

“Cuma mendung hitam saja yang menipu” jawab ibu di siang itu.

“Padahal saya sudah senang sekali bu mau datang hujan, setelah berjam-jam ditunggu matahari malah memelototi saya” ujar Lyzy sambil memandang ke arah jalan.

“Bulan Desember nanti pasti baru mulai hujan, tapi tahun kemarin malah tidak ada musim kemarau to?” ibu mengomentari sambil bersandar di pagar pembatas yang dilindunggi pepohonan bambu hias.

Terkadang aku kaget saat duduk santai di warteg beratap terpal oranye itu. Ada gerimis lembut yang memukul permukaan terpal. Berbunyi.

“Wah, ibu ada hujan ini tapi kok cuma sebentar ya?” aku penasaran.

“Bukan hujan itu embun yang jatuh dari daun-daun bambu disamping ini” ibu menutupi rasa penasaranku.

Mobil dan motor bersliweran di jalan tapi hal itu tidak membuat kami bising dan memutuskan untuk tidak bercakap-cakap.

Tiba-tiba ada seseorang bertubuh tinggi besar melonggokkan kepalanya.

“Bu, coffimix dingin sama mie rebus pakai telur satu” pinta satpam Universitas Sanata Dharma.

Aku sering berpapasan dengan dia bahkan bertegur sapa jika bertatap muka. Biasanya kami bertemu di jalan gatot kaca sebelah timurnya STM Pembangunan. Aku berjalan kaki sepulang dari kuliah dan ia naik sepeda onthel tua tapi terlihat berkualitas bagus. Bermerklah. Seragam satpamnya dan kepala yang tidak tertutupi topi atau apapun. Mengumbarkan helai rambutnya yang sudah beruban. Jam tangan yang selalu hadir di tangan kanannya. Setiap aku bersimpangan dengannya pertama kali yang aku dapatkan adalah senyumnya. Dia adalah seorang pria yang murah senyum.Hampir setengah tahun kami tidak pernah bertemu karena aku tidak kost di jalan Gatot kaca no. 3a lagi. Tuhan sudah menjadwalkan kami untuk bertemu hari ini. Nanti malam sudah bulan sabit lo. Fase bulan yang sangat aku tunggu-tunggu ya ini, bulan sabit. Efek cahayanya yang sangat menyegarkan seluruh tubuhku.

“Eh mbak” sapa pak Bega begitu panggilannya. Aku juga baru tahu hari itu ibu yang memberi tahuku.

“Sudah semester berapa to mbak?” tanya pak Bega sambil menyulut putung rokok yang ia beli secara eceran di warteg soto Lamongan.

“Oh, semester sembilan pak” ungkap aku sembari mesem dan mengunyah nasi beserta kubis sebagai isi soto pesananku.

“Ambil jurusan apa mbak?” pertanyaan kedua yang dilontarkan pak Bega.

“Pendidikan IPA pak” jawabku singkat.

Perbincangan terputus karena aku sibuk melahap nasi dan isinya. Sesekali mengurangi isi larutan di dalam gelas disamping piringku. Pak Begapun menyandarkan bahunya yang kekar di pagar dan menghisap nikotin yang melayang-layang di udara. Pesanan pak Bega sudah datang, semangkok mie rebus plus telur matang. Sebelum melahapnya, ia mengajakku untuk berbincang kembali. Entah bagaimana kok tiba-tiba pak Bega menceritakan mahasiswa PGSD Sadhar yang menjadi guru di Belanda. Ada 50 lebih alumni PGSD Sadhar yang berhasil menjadi guru di negeri penjajah Indonesia selama 3,5 abad lalu. Ia menjelaskan bahwa sering guru dari Belanda yang belajar di kampus Sadhar kemudian mengajak mahasiswa yang berprestasi dan mau belajar bahasa Belanda untuk jadi guru di negerinya. Profesi guru adalah kehormatan. Guru sangat dihargai oleh bangsa Belanda. Menjadi guru bukan perkara yang mudah karena harus menjalani tes kesehatan, mental dll. Para guru di Belanda mulai mengajar jam 9 hingga jam 5 sore, mahal waktu mereka untuk bersosialisasi. Mereka sangat fokus kepada pekerjaannya. Mengapa harus membahas guru di negeri Belanda. Aku mulai berpikir panjang, aku kan ingin sekali kelak entah kapan bisa merasakan belajar disana. Berangkat kuliah dengan sepeda, pasti sungguh mengasyikkan. Ah, aku mulai bermimpi lagi di siang bolong.

“Wah, malahan susah ya jadi guru di negeri kincir angin” celotehku.

“Ya, itulah bagusnya pendidikan mereka. Jika seorang guru melanggar atau melakukan kesalahan penyimpangan seks pada sesama guru atau siswanya, langsung dikeluarkan” pak Bega merespon.

“Kalau di tempat kita, guru kayak jamur di musim hujan. Kalau ada guru yang melakukan penyimpangan terus kita melapor ke pemerintah, mesti ribet prosesnya dan tidak jelas” anggapanku.

“Malah dibiarin aja mbak. Mereka tidak mau tahu” ibu menimpali.

“Hahaha” aku tertawa sambil pringas-pringis.

Obrolan semakin seru saja. Nasi di piring sudah habis masuk ke lambung, air teh pun habis hanya sisa kristal kecil tak beraturan di dasar gelas. Sedotan merah kusam menemani sendok. Akupun kembali mengumpulkan serpihan mimpiku yang sempat berserakan yang aku lemparkan sesukaku. Sepertinya setelah lebaran usai aku harus berkunjung ke Karta Pustaka. Teringat pesan pak Bandung yang tinggal di Utrecht, suatu hari kamu pasti berkunjung ke rumahku di Utrecht. Percayalah.

“Sebenarnya banyak permintaan dari Belanda untuk meminta guru-guru di Indonesia mengajar di Belanda. Tetapi pemerintah kita tidak mengijinkan hal itu.Banyak warga kita yang tinggal disana. Teman saya yang pekerjaannya dari kecil membantu bapaknya membuat keris kemudian diajak orang Belanda untuk bekerja disana dan mengurus museum keris di Leiden. Dia sukses sekarang hidup nyaman disana. Coba kalau di tempat kita, pekerjaan membuat keris tidak terlalu dipandang. Namun oleh negeri Belanda dihargai. Sering-seringlah main ke kampus biar tahu” curhat yang berkualitas dari seorang satpam kampus.

Mie rebus pesanannya masih nongkrong di mangkok. Aku hanya mesam-mesem saja mendengarnya. Wejangan macam apa ini Tuhan. Rasa banggaku menjadi seorang calon guru kembali perlahan menyala.

“Sudah punya pacar?” tanya pak Bega.

“Belum pak. Belum dapat ijin dari bapak” jawabku dengan tangan yang sibuk mengaduk sisa kristal es dalam gelas.

“Sudah waktunya mencari, sudah semester akhir lo. Jangan terlalu percaya laki-laki. Mereka perayu, suka nipu, nakal” bocoran yang disampaikan secara lugas.

“Haha” akupun tertawa kecil.

Gambar. when rain will be fall to me?

0 komentar:

Poskan Komentar