
Sejak setahun yang lalu, hari ini sudah ku tunggu. Dua angka yang berdekatan berwarna merah terlukis di kalender kecil di sudut ruang kamar dekat pintu. Hari libur. Tapi diri tidak ingin pergi berlibur melepaskan lembaran kertas yang berwarna-warni dan bernilai. Aku tidak akan mengajak teman perempuanku untuk menghasilkan lelucon dan berakhir dengan tertawa. Merayakan ditemani sepasang tangan, sepasang mata bening yang menjadi kamera terbaikku mengabadikan keindahan dunia, sepasang kaki terkuat, sepasang lubang hidung untuk bebas menghirup kesegaran, sepasang bibir untuk merasakan dinginnya suasana senja. Masih ada sepasang telinga yang akan membantuku mendengar teriakan ombak, sepasang ketiak yang membantuku mengeluarkan racun yang menghancurkan tubuh. Ada lagi. Sepasang serambi dan bilik jantung, mereka tetap menjaga nyawa. Sepasang bronkiolus milik paru-paru yang akan merilekskan nafasku jika nanti tiba-tiba kelelahan berjalan. Sepasang rahang atas dan bawah bergigi tajam siap meracik makanan untuk memasok energi supaya otot-ototku masih kekar.
Bukankah diriku sangat spesial. Semua bagian dari tubuhku sangat berbeda dengan manusia yang lain. Apa guna jika mulutku berucap kurang ajar dan marah dengan Tuhan. Tubuhku telah diciptakan sedemikian unik, serupa denganNya.
Matahari telah beranjak ke ujung barat, sebentar lagi ia akan melepaskan perpisahan dengan segala keindahan yang ia miliki atas ciptaan Tuhan. Matahari yang berukuran lebih besar dibanding bola mataku, selalu menutup hari dengan keindahan. Bahkan ketika membuka haripun, kehangatan selalu menusuk ke pori-pori bumi. Matahari mengucap syukur dengan caranya. Lantas apa yang sudah aku dan kamu lakukan saat senja dan pagi hari untuk Tuhan.
Sepasang roda motor mengantarkan tubuh mahakarya Tuhan menepi di sebuah pantai. Me langkah dan meninggalkan jejak digundukan pasir berwarna-warni. Diawali dari ujung barat dan ke timur. “Senja hari ini pasti tidak cantik” gumam Rengga diatas pijakan batu karang di pinggir pantai Sundak. Bergerak sedikit demi sedikit sambil melepas keegoisan diri.
Pelukis senja berbisik penuh kelembutan dan kedamian “serahkanlah kuatirmu pada Ku, maka Aku akan memelihara engkau, anakKu”.
Kaki telah mantap berpijak dan titik koordinat terbaik untuk menikmati hari libur ini berangsur-angsur muncul.
Sebentar ku putar roda masa yang telah terlewati. Seorang lelaki tengil berkata “pergilah ke tempat yang kamu inginkan, sekarang”.
Berhasil mewujudkan perkataan teman lelaki.
Angin menabrak tubuh dengan sengaja. Pergi dan tertawa setelah meracuni segala sepasang yang menempel di tubuh dengan benih-benih kebebasan. Jelas dan semakin nyata.
Cahaya yang sempat ditinggalkan awan pada senja berhamburan. Jangan buru-buru meninggalkan penungguanmu, tunggu saja terus hingga apa yang kamu inginkan menjadi milikmu. Tapi kesetiaanku menanti senja kalah oleh waktu. Aku buru-buru pergi tinggalkan karena hal-hal yang hambar berserakan di jidat.
Sesampai di kamar yang berbentuk persegi, tas hitam dibuka perlahan-lahan. Apa yang sudah ku dapatkan dari pantai tadi ya. Tetap sama seperti keadaan saat berangkat. Mungkin senja hari ini cantik tapi mataku enggan melihatnya. Bodoh. Kenapa pulang jika aku belum mendapatkannya. Kecewa. Kenapa aku kecewa bukankah tadi ada yang berbisik di telinga kananku. Untung saja lubang telinga kiri sudah tersumbat headset jadi aku masih menyimpannya.
Hari ini kedamaian melawat tubuh yang penuh lemak dan darah. Seperti ada malaikat yang tersenyum padaku dan saat terbangun.Tergeletak sekujur tubuh yang dingin dan pucat. Kedamaian itu kekal adanya.
"Tuhan, aku belum berpamit dengan ibu dan bapak serta adikku" ucap Rengga
"Tenanglah, Nak. Mereka akan mengerti" jawab Tuhan
"Aku belum membahagiakan mereka seutuhnya. Ini salahku tidak mendengar suaraMu" lirih dan tertunduk
"Kemarilah,mari anakKu" pinta Tuhan
Natal tahun ini kurayakan bersama Dia.
Siap atau tidak semua akan terjadi. Berjaga-jagalah dan manfaatkan waktu sebaik mungkin.
Ket.Gambar
Rengga yang pulang mengenakan kaos putih
0 komentar:
Poskan Komentar