Sudah lama kita tidak bertemu. Hampir satu tahun yang lalu, kita saling berdekapan. Ada gumpalan awan putih yang mengudara di mata coklatmu. Bola mata kita sama, coklat. Tapi keegoisan menghilangkan waktu kita untuk berdua. Walau sekedar bercerita kemudian bertengkar dan diakhiri gelak tawa. Sifat pendiammu sama sepertiku. Ya, karena darah kita sama-sama merah.
Kau adalah lelakiku yang kerap aku pikirkan. Terkadang aku binggung sendiri menyiapkan sesuatu yang mampu membuatmu tegar menghadapi hidup. Bila teringat bibir merahmu yang mungil, aku akan mulai tertawa sendiri. Sebelum kau turun ke dunia, doa pertamaku untukmu yaitu agar bibirmu tampil mini dan merah merona. Entah apa motivasiku meminta kepada Tuhan seperti itu.
Tanganmu yang pertama kali dan setiap hari berani mengetuk dan membuka pintu kamar. Memanggilku, memandangku. Ketika seperti saat ini kita direntangkan oleh benang kilometer, mulai tersadari. Aku bangga memiliki seseorang lelaki. Bahkan di sekitarku sekarang lebih banyak lelaki. Ya, lelaki sepertimu.
Namun sekelilingku tak akan merubahku sama sepertimu, lelaki. Aku bangga menjadi gadis. Suatu hari nanti akan menjadi wanita. Mengalirkan darah kepada lelaki dari darak keturunanku.
Meskipun kau, lelaki dan aku, wanita tapi darah kita sama. Merah hangat bersuhu. Sehebat-hebatnya kau, kita tetap sama. Darah. Sedikit di tambah cinta akan lebih terasa nikmat.
Bulan sabit akan kembali datang. Begitupun rinduku padamu, lelakiku. Selalu ada dan bersiklus.
Kau adalah lelakiku yang kerap aku pikirkan. Terkadang aku binggung sendiri menyiapkan sesuatu yang mampu membuatmu tegar menghadapi hidup. Bila teringat bibir merahmu yang mungil, aku akan mulai tertawa sendiri. Sebelum kau turun ke dunia, doa pertamaku untukmu yaitu agar bibirmu tampil mini dan merah merona. Entah apa motivasiku meminta kepada Tuhan seperti itu.
Tanganmu yang pertama kali dan setiap hari berani mengetuk dan membuka pintu kamar. Memanggilku, memandangku. Ketika seperti saat ini kita direntangkan oleh benang kilometer, mulai tersadari. Aku bangga memiliki seseorang lelaki. Bahkan di sekitarku sekarang lebih banyak lelaki. Ya, lelaki sepertimu.
Namun sekelilingku tak akan merubahku sama sepertimu, lelaki. Aku bangga menjadi gadis. Suatu hari nanti akan menjadi wanita. Mengalirkan darah kepada lelaki dari darak keturunanku.
Meskipun kau, lelaki dan aku, wanita tapi darah kita sama. Merah hangat bersuhu. Sehebat-hebatnya kau, kita tetap sama. Darah. Sedikit di tambah cinta akan lebih terasa nikmat.
Bulan sabit akan kembali datang. Begitupun rinduku padamu, lelakiku. Selalu ada dan bersiklus.
0 komentar:
Poskan Komentar