Kamis, 21 Juli 2011

Longing on July

Sudah hampir seblun hujan tak mau singgah di genteng rumah yang telah berusia. Tanpa undangan yang dihantarkan pak pos dengan sepeda motor bercat oranye. Siang itu getah bening dan jernih dengan intensitas sedang menepi di muka jendela. Samar-samar terbayang derai getah bening nan jernih itu mengotori kaca jendela kamar. Astaga, ada hawa beracun yang dibawa oleh serdadu gerimis. Cepat-cepat ku tenggelamkan kedua bola mata coklatku, regol-regol ku rapatkan hingga menyatu dan tak bercelah. Oh, ku tenggelamkan lebih dalam lagi saja dua bola mataku ini agar hawa racun itu tidak menembus saraf penglihatanku dan mungkin aku bisa buta.

Bukan hanya itu. Aku menahan mulutku terbuka menganga. Otot sekitar bibir ku perintahkan untuk menutup katup mulut hingga keadaan aman. Sebenarnya tujuanku ini hanya untuk menahan agar gerbong emosiku tetap berada pada jalur relnya, bukan melintas pada jalur lain. Naman kedua tanganku bersatu dalam kehangatan cekungan buah dada. Ia mengintip ke luar jendela tanpa berkompromi dengan mataku.

ada apa di luar sana? tanyanya.

Hangat, dingin, segar pas sesuai takaran yang ku inginkan selain itu parfum kefanaan sesak berjejal berebutan masuk lewat ventilasi kamar memenuhi kamarku. Aku merasakan kesejukan yang benar-benar eksklusif dari Tuhanku. Lambat-lambat aku pulas tertidur menggapai mimpi yang amburadul tak terencana.

Tiba-tiba aku merasakan ada yang berbeda.

Ku buka kedua regol pelitaku. Aku tak sempat melihat secara sadar bola-bola gerimis.
Hanya pujian-pujian angin yang sedang merayu gerimis. Angin musim kemarau berhasil ku cumbui.
Apa yang terjadi setelah gerimis menghilang, menguap lenyap.

Begitu cepat buluh-buluh bersayap lembut menyusup datang bertamu tanpa mengetuk pintu.

Ah, mengapa harus selalu serdadu buluh rindu yang datang. Mereka secara laten akan membunuhku.

Lampu handphone mendadak menyala kedap-kedip seperti kunang-kunang di waktu senja.

"Hei" sapaan dari manusia yang bertubuh kurus.

"Ya, kemana saja kau. hilang tak bilang-bilang" sending message.

"Kapan bertemu lagi" si kurus membalas.

"Entahlah, kapan-kapan saja" balasku.

Sudah diserang buluh-buluh bersayap itu dibumbui pesan yang melintang di layar handphone.

Rindu menjadi bertumpuk-tumpuk, jadi bukit atau gunung yang berpuncak salju seperti puncak gunung Kilimanjaro?

Setidaknya aku baru saja merasakan sesajen dari Tuhan untukku.




0 komentar:

Poskan Komentar