Senin, 11 Juli 2011

Hujan Dandelion

Hamparan rumput-rumput kering gelisah ketika hari belum mengirimkan pasukan hujan. Warna kusam menjadi baju seragam rumput-rumput liar yang menumpang hidup di ruang kosong. Bulan masih terlihat pucat pasi, bulan hampir purnama 1/3 bagian lagi. Bergerak meninggalkan tataan batu hitam menuju tangga yang berjumlah ganjil. Dari kejauhan tidak mencium bau-bau dupa yang menendang paru-paru hingga batuk mendobrak.

Tumbuhan pagar-pagaran yang berbunga ungu muda mulai bermekaran. Tak sengaja cahaya matahari sore mengarahkan pandangan ke satu titik.
Dandelion.
Retina Zetya bermekaran bak buluh-buluh dandelion yang memekar. Kaki Zetya berlari-lari kecil kesana kemari mencari seseorang yang mau diajak berbagi keriangan di sore itu.

La...la....la,nada lembut yang mengalun diiringi petikan senar-senar yang mengapung di udara terjamah angin. Dentingan melambat mengeras sesuka angin menekan senar-senar yang melayang tak beraturan itu.
Tak kuasa menahan keinginan untuk berkeliling candi yang riwayatnya terkubur lahar muntahan Merapi ratusan tahun silam. Gerak-gerik lembut Zetya tak didengar telinga manusia lain yang menebar keriangan di tempat yang sama. Candi Sambisari.

Debu-debu yang dibawa telapak kaki mereka menghujani gaun putihku yang selembut buluh dandelion yang baru saja ku temui. Bercak-bercak berwarna menodai gaun kesayanganku. Aku memilih berjalan meninggalkan segala keramaian. Namun dipersimpangan sudut candi induk. Dua sejoli berusia remaja berdecak saling kagum. Tawa mereka tak bersuara tapi sedikit mampu menyegarkan keluhku. Ah, mereka begitu menikmati sore ini, meskipun matahari tak menyapaku sebelum pergi. Tiada awan yang berlembayung. Mereka begitu asyik dan nyaman-nyaman saja berbincang saling bertanya dan menjawab. Tapi aku muak dengan kondisi yang menyepatkan mata.

Ku lemparkan pandanganku jauh-jauh dari mereka. Terebah di tumpukkan rumpul liar sungguh menggelikan. Rasa-rasa yang lama tak ku dapatkan semenjak aku meninggalkan masa kanak-kanak. Rasa yang alami menyentuh jiwa kanak-kanakku kembali ternikmati. Aku bernyanyi sesuka hati tanpa ada yang melarangku. Dandelion-dandelion kecil menyempil di ruang sempit antara rumput satu dengan rumput yang lain.

Mungkin keriangan diriku tak harus selalu ku dapatkan dengan orang lain. Ketergantungan akan memanjakan diriku tidak mandiri dan berusaha sendiri. Peri-peri bergaun putih berenda tiba-tiba meraih tanganku. Mengajakku berdiri dan berdansa di lantai rerumputan. Tak ada satu kerusakan tubuh rumput liat itu, kakiku melayang-layang diatas mereka. Sesekali sinar matahari menjengukku, dan mengenai tubuh serta sayap-sayap peri teman kecilku dulu. Seberkas sinar itu melengkung pelangi indah.

Ku ajak peri-peri bersayap putih lembut memetik dandelion yang berumur. Membelakangi matahari hingga siluet bayangan kami. Tiupan angin buatan mulut kami menerbangkan buluh-buluh dandelion putih itu. Kami kegirangan dan sesekali menangkap buluh-buluh itu agar mendarat di tangan kami.

Ku buang harapan sederhanaku bersama buluh kecil bersayap helikopter itu. Hingga suatu hari waktu mempertemukan kami dalam kenyataan.
Hujan buluh-buluh Dandelion menyentuh pipi-pipi kami hingga mengantarkan kami ke batas mimpi.

Gambar. dokumen pribadi (Sekuntum Dandelion di tepi Candi Sambisari)

0 komentar:

Poskan Komentar