
jika dirasakan maka terasa
ketika membuang rasa yang berkebalikan dengan kenyamanan, maka ketidaknyamanan akan semakin mengikat rasa
sesaat debu melayang bersama udara, kehampaan akan menggali lubang
melirik ke atas kepala, 1000 anak tangga menjarakkan dengan bulan sabit yang terang benderang
gelap langit berdesalan rasi bintang-bintang yang tak ku tahui namanya
tersimpah rasa menggelinding ke pori-pori Bumi
menghindari injakan kaki-kaki kotor
bagaimana bisa meracik cerita sukacita, jika bumbu yang menegaskan rasa masih terapung dimana-mana
Perpisahan mungkin selalu berpihak pada pertemuan. Mereka tidak bisa dipisahkan oleh takdir dari malaikat langit manapun. Semilir angin pantai berpasir hitam di pagi hari sedikit memberi rasa berbeda pada awal perpisahan. Para tukang batu sudah berpakaian seadanya dan siap bekerja untuk membangun dermaga di pantai bertelaga biru itu. Para pekerja menonton kami dengan mata penuh tawa. Apa yang sedang mereka tertawakan? Kami tidak telanjang, kami berpakaian sopan bahkan memakai helm guna mematuhi lalu lintas.
"Kamu akan mencari yang lain setelah pertemuan sekaligus perpisahan kita" ujar lirih Sandi.
Tanaman cabai merah menampakkan dedaunnya yang hijau tu dan segar. Buah cabai pun terlihat sudah berubah warna dari hijau menjadi merah muda dan tua. Bahkan ada yang berwarna coklat.
Tangan gadis itu menarik-narik tali helm yang sudah kendur.
"Aku tidak tahu, tapi perasaanku merasa kita tidak akan bersatu" jawab Shelia dengan ragu.
"Kita tidak tahu kapan lagi kita akan bertemu,berjalan berdua seperti ini" Sandi melanjutkan percakapan di sepanjang jalan yang di sebelah kanan dan kiri berbaris tanaman padi yang menguning.
Batin Sita berujar, sebenarnya aku mencintaimu tapi jiwaku susah untuk menerimamu seutuhnya dan meyetujui permintaanku untuk hidup bersatu kelak. Mungkin waktu akan membantuku untuk bernego dan siap mengambil satu keputusan yang tidak menguras air mata kita. Ada rasa yang menari-nari tiap kita bersama namun ada peri-peri biru yang diam tak mau menggubris kebersamaan kita. Aku pernah mencoba berlari dan menemukan yang lain di persimpangan jalan menuju arahmu. Alhasil, aku menolak keadaan itu.
"Sudahlah kita lihat saja esok apa yang terjadi pada kita" Sita mencoba menutup tema perbincangan perpisahan mereka.
"Makan yuk sudah lapar ni, itu ada warung kita makan di situ aja" ajak Sita dengan gesit.
"Makanlah dua porsi, karena nanti kau akan berpergian jauh" omelan Sita sambil mengambilkan satu bungkus nasi kuning lembut.
"Awas kalau tidak dihabiskan,aku gak mau menghabiskan sisamu" serangan kata dari Sandi.
Bisikan angin dengan udara dari pantai memabukkan perutku hingga masuk angin.
"Gak habis, bantuin aku dong" pinta Sita sembari meyodorkan sisa nasi yang berceceran di kertas minyak.
"Gak" jawaban singkat dan memberhentikan ucapanku yang hendak ku lontarkan.
Setelah siang memanasi kulit hitamku. Perpisahan itu datang kemudian pergi.
Malam-malam pekat akan kehitaman. Saat menengadahkan kepala bulan sabit mulai membingkai bintang-bintang di sekitarnya. Seakan bintang-bintang hanya milik bulan sabit.
"Kenapa tidak mengangkat telponku dan menjawab pertanyaan singkatku" pesan itu menjauh dari hadapan Sita.
Mungkin pesan itu tenggelam di Selat Sunda yang membiru dan penuh diam. Dan kabar harapan menjadi buih-buih ombak yang tertabrak dan ditinggalkan kapal-kapal Ferry yang menghantarkan kedatangan dan kepulangan.
ket. gambar
Seorang wanita paruh baya yang menonton kedatangan dan kepulangan, satu dari mereka tak ada yang singgah.Malang.
ketika membuang rasa yang berkebalikan dengan kenyamanan, maka ketidaknyamanan akan semakin mengikat rasa
sesaat debu melayang bersama udara, kehampaan akan menggali lubang
melirik ke atas kepala, 1000 anak tangga menjarakkan dengan bulan sabit yang terang benderang
gelap langit berdesalan rasi bintang-bintang yang tak ku tahui namanya
tersimpah rasa menggelinding ke pori-pori Bumi
menghindari injakan kaki-kaki kotor
bagaimana bisa meracik cerita sukacita, jika bumbu yang menegaskan rasa masih terapung dimana-mana
Perpisahan mungkin selalu berpihak pada pertemuan. Mereka tidak bisa dipisahkan oleh takdir dari malaikat langit manapun. Semilir angin pantai berpasir hitam di pagi hari sedikit memberi rasa berbeda pada awal perpisahan. Para tukang batu sudah berpakaian seadanya dan siap bekerja untuk membangun dermaga di pantai bertelaga biru itu. Para pekerja menonton kami dengan mata penuh tawa. Apa yang sedang mereka tertawakan? Kami tidak telanjang, kami berpakaian sopan bahkan memakai helm guna mematuhi lalu lintas.
"Kamu akan mencari yang lain setelah pertemuan sekaligus perpisahan kita" ujar lirih Sandi.
Tanaman cabai merah menampakkan dedaunnya yang hijau tu dan segar. Buah cabai pun terlihat sudah berubah warna dari hijau menjadi merah muda dan tua. Bahkan ada yang berwarna coklat.
Tangan gadis itu menarik-narik tali helm yang sudah kendur.
"Aku tidak tahu, tapi perasaanku merasa kita tidak akan bersatu" jawab Shelia dengan ragu.
"Kita tidak tahu kapan lagi kita akan bertemu,berjalan berdua seperti ini" Sandi melanjutkan percakapan di sepanjang jalan yang di sebelah kanan dan kiri berbaris tanaman padi yang menguning.
Batin Sita berujar, sebenarnya aku mencintaimu tapi jiwaku susah untuk menerimamu seutuhnya dan meyetujui permintaanku untuk hidup bersatu kelak. Mungkin waktu akan membantuku untuk bernego dan siap mengambil satu keputusan yang tidak menguras air mata kita. Ada rasa yang menari-nari tiap kita bersama namun ada peri-peri biru yang diam tak mau menggubris kebersamaan kita. Aku pernah mencoba berlari dan menemukan yang lain di persimpangan jalan menuju arahmu. Alhasil, aku menolak keadaan itu.
"Sudahlah kita lihat saja esok apa yang terjadi pada kita" Sita mencoba menutup tema perbincangan perpisahan mereka.
"Makan yuk sudah lapar ni, itu ada warung kita makan di situ aja" ajak Sita dengan gesit.
"Makanlah dua porsi, karena nanti kau akan berpergian jauh" omelan Sita sambil mengambilkan satu bungkus nasi kuning lembut.
"Awas kalau tidak dihabiskan,aku gak mau menghabiskan sisamu" serangan kata dari Sandi.
Bisikan angin dengan udara dari pantai memabukkan perutku hingga masuk angin.
"Gak habis, bantuin aku dong" pinta Sita sembari meyodorkan sisa nasi yang berceceran di kertas minyak.
"Gak" jawaban singkat dan memberhentikan ucapanku yang hendak ku lontarkan.
Setelah siang memanasi kulit hitamku. Perpisahan itu datang kemudian pergi.
Malam-malam pekat akan kehitaman. Saat menengadahkan kepala bulan sabit mulai membingkai bintang-bintang di sekitarnya. Seakan bintang-bintang hanya milik bulan sabit.
"Kenapa tidak mengangkat telponku dan menjawab pertanyaan singkatku" pesan itu menjauh dari hadapan Sita.
Mungkin pesan itu tenggelam di Selat Sunda yang membiru dan penuh diam. Dan kabar harapan menjadi buih-buih ombak yang tertabrak dan ditinggalkan kapal-kapal Ferry yang menghantarkan kedatangan dan kepulangan.
ket. gambar
Seorang wanita paruh baya yang menonton kedatangan dan kepulangan, satu dari mereka tak ada yang singgah.Malang.
Seorang wanita paruh baya yang menonton kedatangan dan kepulangan, satu dari mereka tak ada yang singgah.Malang.
BalasHapus==> lebih tepat : Melas.
wo dasar mas Gundul alias CAKIL....
BalasHapus