Kepedulian kini sering tergeser oleh kesibukan berbagai pihak. Minggu siang beranjak setengah membuka mata yang sempat terpejam. Suara nenek yang berbola mata tua da mengerikan melepaskan suaranya "tante ini dicari muridmu" lengkingan yang membaur tak teratur berhasil menerobos lubang telingaku.
Lari-lari kecil mengguncang ubin putih yang penuh debu-debu. Mata mencari-cari siapakah gerangan yang bertamu di siang hari pukul 11.30. Aku mendapatkan seorang gadis kecil yang berpostur tinggi dan kurus namun berkulit hitam manis. Senyumnya menyapa kesadaranku yang pelan-pelan kembali utuh.
"Eh mbak Ika" sapanya sembari membuang senyum manis gadis batak itu.
"Ada apa dek Monic, sini duduk di kursi saja" ajakan yang tidak ingin membiarkan dia duduk di lantai.
"Gimana kalau mbak mengajar les lagi, soalnya mbak-mbak yang ngajar les pada ndak beres semua" awal curhatnya.
Tanganku mengusap-usap kedua mata karena sinar matahari menyilaukan. Mencoba mendengar segala curhat yang ingin dia ceritakan. Setelah bercerita tentang ketidakberesan dan ketidaksenangan dengan guru les yang baru, dia kembali mengurai perasaan yang telah dialami.
"Kenapa kamu ndak tidur siang? kan ini waktunya istirahat dek" tanyaku penuh keingintahuan.
"Gak. Di rumah gak ada orang. Kakak ada tapi dengerin musik pake headset, mama dan papa tempat tetangga yang ngadain syukuran karena dapet arisan. Ya udah aku main ke tempat mbak aja" jawab anak yang tahun ini duduk di bangku sekolah dasar kelas 4.
Batin. Sepertinya dia merasa kesepian dan mencari teman untuk berbincang-bincang.
Kemudian dia kembali bercerita dan menunjukkan permainan sulap sederhana kreasinya. Aku hanya menikmati kondisi yang di hadapan. Dia pun tanpa malu atau ragu menyuruhku untuk ini dan itu sesuai kemauannya.
Ah, dia pun bertanya ini dan itu serta sempat mengintip di jendela kamarku dan mengomentari keadaan kamarku yang sama dengan suasana rusuh di otakku.
Hampir satu jam lebih beberapa menit kami berdua duduk dan bercerita. Mengumbar senyum-senyum manis yang kami miliki. Namun, kebosanan hadir menduduki keceriaa di siang itu. Aku pun berpamit untuk ke dalam sebentar mengambil kunci motor. Motor yang berlindung di bawah pohon itu terlihat kepanasan.
"Mbak, aku pulang dulu ya" teriak Monic dan menjauh dari keberadaanku.
"Iya dek" balasku dari dalam kamar.
Saat ku tenggok dimana tadi kami duduk dan berbincang, tidak ada. Ku melihat seorang gadis kecil menggoyang-goyangkan kaki jenjangnya ke kanan dan ke kiri. Balutan gaun unggu muda tanpa lengan mempercantik geraknya. Uraian rambut panjang sepunggung tergerak kesana kemari atas permainan angin di musim kemarau tahun ini. Kepalanya menunduk memperhatikan kakinya melangkah.
Sedih. Membiarkannya pulang dan menikmati kesepian kembali di rumah yang penuh fasilitas mewah.
Semoga esok bisa bertemu dan bercerita lagi.
"Seorang anak akan mengubah kehidupanmu. Ketika satu kehidupan sedang bertumbuh menjadi dewasa, ia membutuhkan kehidupan-kehidupan lain yang mampu menunjukkan jalan yang benar untuk ditempuh kelak".
Meskipun dirimu kecil jadilah pohon yang teduh untuk siap disinggahi siapa saja, kapan saja.
Lari-lari kecil mengguncang ubin putih yang penuh debu-debu. Mata mencari-cari siapakah gerangan yang bertamu di siang hari pukul 11.30. Aku mendapatkan seorang gadis kecil yang berpostur tinggi dan kurus namun berkulit hitam manis. Senyumnya menyapa kesadaranku yang pelan-pelan kembali utuh.
"Eh mbak Ika" sapanya sembari membuang senyum manis gadis batak itu.
"Ada apa dek Monic, sini duduk di kursi saja" ajakan yang tidak ingin membiarkan dia duduk di lantai.
"Gimana kalau mbak mengajar les lagi, soalnya mbak-mbak yang ngajar les pada ndak beres semua" awal curhatnya.
Tanganku mengusap-usap kedua mata karena sinar matahari menyilaukan. Mencoba mendengar segala curhat yang ingin dia ceritakan. Setelah bercerita tentang ketidakberesan dan ketidaksenangan dengan guru les yang baru, dia kembali mengurai perasaan yang telah dialami.
"Kenapa kamu ndak tidur siang? kan ini waktunya istirahat dek" tanyaku penuh keingintahuan.
"Gak. Di rumah gak ada orang. Kakak ada tapi dengerin musik pake headset, mama dan papa tempat tetangga yang ngadain syukuran karena dapet arisan. Ya udah aku main ke tempat mbak aja" jawab anak yang tahun ini duduk di bangku sekolah dasar kelas 4.
Batin. Sepertinya dia merasa kesepian dan mencari teman untuk berbincang-bincang.
Kemudian dia kembali bercerita dan menunjukkan permainan sulap sederhana kreasinya. Aku hanya menikmati kondisi yang di hadapan. Dia pun tanpa malu atau ragu menyuruhku untuk ini dan itu sesuai kemauannya.
Ah, dia pun bertanya ini dan itu serta sempat mengintip di jendela kamarku dan mengomentari keadaan kamarku yang sama dengan suasana rusuh di otakku.
Hampir satu jam lebih beberapa menit kami berdua duduk dan bercerita. Mengumbar senyum-senyum manis yang kami miliki. Namun, kebosanan hadir menduduki keceriaa di siang itu. Aku pun berpamit untuk ke dalam sebentar mengambil kunci motor. Motor yang berlindung di bawah pohon itu terlihat kepanasan.
"Mbak, aku pulang dulu ya" teriak Monic dan menjauh dari keberadaanku.
"Iya dek" balasku dari dalam kamar.
Saat ku tenggok dimana tadi kami duduk dan berbincang, tidak ada. Ku melihat seorang gadis kecil menggoyang-goyangkan kaki jenjangnya ke kanan dan ke kiri. Balutan gaun unggu muda tanpa lengan mempercantik geraknya. Uraian rambut panjang sepunggung tergerak kesana kemari atas permainan angin di musim kemarau tahun ini. Kepalanya menunduk memperhatikan kakinya melangkah.
Sedih. Membiarkannya pulang dan menikmati kesepian kembali di rumah yang penuh fasilitas mewah.
Semoga esok bisa bertemu dan bercerita lagi.
"Seorang anak akan mengubah kehidupanmu. Ketika satu kehidupan sedang bertumbuh menjadi dewasa, ia membutuhkan kehidupan-kehidupan lain yang mampu menunjukkan jalan yang benar untuk ditempuh kelak".
Meskipun dirimu kecil jadilah pohon yang teduh untuk siap disinggahi siapa saja, kapan saja.
0 komentar:
Poskan Komentar