Rabu, 15 Juni 2011

Lunar Eclipse in Cold

Hari ini aku tidak menjenguk kamarku. Meninggalkan seharian berangkat pagi pulang esok pagi. Aku membenci sudut-sudut ruang kamarku yang penuh dengan warna pucat. Seharian ku angkatkan kaki menuruti keinginan hati menapak dan meninggalkan jejak. Semakin hari memandangi benda asing gelap di ruang kamarku yang pucat pasi. Menekan rasa rindu yang tidak akan pernah terucap dari bibir dingin.

Kau pernah berjanji untuk pergi ke suatu tempat melihat bulan dan bintang-bintang di langit yang abu-abu. Segelas bening terpenuhi harapan menikmati bulan bangun kesiangan. Alasan tidak pernah membangun kepercayaanku akan arti sebuah janji. Waktu menculik semuanya dan saat bulan purnama di bulan Juni, harapan yang berdesakan di segelas bening membeku bersama embun di musim dingin pembuka musim meranggasnya dedaunan.

Di ruang yang luas, delapan kali lipat ruang kamarku kakiku berayun-ayun untuk mengubah dinginya AC menjadi kalor. Namun, usahaku tidak berdampak sedikitpun. Ku mencari akal lain dengan menggangkat kedua pergelangan kaki menjadi sama kedudukan, bersatu dekapan. Jari-jari kaki yang terbungkus kaos kaki berwarna ungu muda saling berpelukan.

"Pucat...pucat...pucat...pucat" teriak jari-jariku yang mulai lelah beratraksi menunggu Lunar Eclipse tercermin di lensa mata. Keraguaan berhasil membujuk otak kanan untuk tidak keluar ruangan sekedar memandangi gerhana bulan total. Umbra.

Binggung. Pulang dan aku akan melihat benda asing yaitu benda hitam yang dua bulan lalu datang menjadi penghuni baru kamarku. Mengingat suaramu, jari-jari lentikmu yang halus yah aku akan berimajinasi warna-warni tentang kesukaanku pada satu pribadi.

"Cepatlah merebahkan badanmu, sudah pagi. Tidurlah. Besok kita masih bisa melihatnya lagi" gertaknya sambil menarik-narik jaket untuk mencari kehangatan yang tersembunyi.

"Aku belum mengantuk, ingin menantinya sampai aku puas memelototinya" ujar Katarina.

Di seberang sana lampu-lampu telah padam dan hanya sedikit saja yang bertahan. Diam-diam ku rakit helikopter kecil berwarna biru. Ku rancang dengan berbahan bakar kebahagiaan dan bersayap pengharapan. Jika nanti helikopter menabrak awan, sayapnya tak akan patah. Karena pengharapanku tak akan terpatahkan oleh apapun.

Aku tidak mau memandangi umbra menutupi bulan. Aku hanya ingin menikmati bulan menjadi merah.
"Bangun.... bangun...." teriakku kencang.

Tapi tidak terdengar irama yang bersinggah di telingaku.
Apakah telah menjadi dingin??





0 komentar:

Poskan Komentar