
Siang itu tanah yang dipijaki anak-anak sanggar Studio biru mengalami kekurangan air. Tanah tak mampu menampung air saat ia datang. Bebatuan kapur mengeras tak mau menerima air dan menyimpannya dalam pori-pori humus yang hanya tak lebih 5 cm dari permukaan tanah. Panas akan sangat terasa saat pukul 10 menjauh dari angka satuan. Sesekali angin setengah kencang menderu datang menghampiri nyawa-nyawa yang masih mencipta impian-impian yang hendak dikejar.
Saat menghujamkan telapak kaki di sanggar, tampak beberapa anak-anak yang belum terjamah otakku. Awalnya aku ingin tak peduli nama dan tentang mereka,namun aku sadar bahwa life is fully diversity.
Tangan kanan menjulur kearah anak-anak yang asing itu.
"Namanya siapa?" ucapku yang terselip senyum akrab.
"Anis" jawabnya yang terurai singkat namun berkesan karena keping-keping senyuman manis mengudara. Gadis yang masih duduk di bangku kelas 5 SD, berjilbab dan gesit.
Setelah mendapatkan info namanya secara langsung, kita menjadi akrab. Satu jam berlalu dengan penuh warna-warni. Seorang anak balita, kira-kira berumur 3 tahun merapat di kedudukanku duduk beralas tikar. Hendra namanya, dia belum pernah mengenyam masa sekolah atau PAUD. Kulitnya sawo matang, lincah, berani menyapa meskipun belum kenal, suka berbicara, matanya selalu berbinar terang mendeskripsikan bahwa ia selama ini menikmati hidup masa kanak-kanaknya.
"Iki anjing" celetuknya sambil membuka cover majalah disney Dalmatians.
"Ini namanya anjing Dalmatians" ungkapku sembari merogoh perhatiannya agar aku diijinkan bergabung memandangi majalah itu.
"Jumlah anjingnya ada berapa hayo?" tanyaku sambil mengumbar senyum. Ekspresi wajahnya binggung tapi matanya tetap bersinar terang gembira, hanya 1 % ketakutan yang terpancar di wajahnya. "Ini ada 1,2,3" ajarku sambil mengeja dengan jari-jariku berusaha agar dia mengerti.
"Coba lagi yo bareng-bareng, ditirukan. satu, dua, tiga" jari kanannya mulai ditekuk untuk memunculnya angka 3. Ia mau belajar, cepat mengerti apa yang disampaikan orang lain.
Tiba-tiba kami berdua melihat tokoh dalam majalah seorang wanita berpelukan dengan seorang pria. Tanpa ancang-ancang Hendra mengeluarkan isi meriam di otaknya.
"Iki kelonan" ujarnya tanpa merasa bersalah.
Memang ia tak bersalah berkata seperti itu. Namun, kata "kelonan" tidak wajar diucakan anak seumuran dia, ya mungkin di lingkungan hidupnya di desa yang tidak serba kecukupan.Sesuatu pengucapan yang wajar. Hatiku kaget. Kenapa ia bisa berkata seperti ini, mungkin sering mendengar ibunya berkata atau anggota keluarganya bicara kata-kata itu.
"Hendra, itu namanya berpelukan ya" tegasku dengannya dan ku lengkungkan kedua lenganku ke punggungnya mencontohkan ini namanya berpelukan. Cukup senang dia mulai memahaminya meskipun wajahnya tersimpan tanda keraguan. Paman Dori, mas Hendra, mas Mumu, mas Tosse, Lia, Bayu sibuk bercerita tentang apa saja dengan anak-anak sanggar yang lain. Aku lelah dan duduk di kursi yang penuh debu dan menimbulkan warna putih di jeans yang ku kenakan. Bersandar di tembok yang belum berumur sebulan penuh berdiri.
Ada tangan kecil yang menjawil pundakku, dan terdengar suara," ayo kak main bulu tangkis lagi" ucapnya dengan senyum manis khasnya. Anis mengajak bermain, dan aku menolaknya dengan permainan alasan-alasan halus dan berjanji nanti pulang bersama naik motor denganku. Dia menerima alasan-alasanku. Tak berhenti begitu saja, perbincangan kami berlanjut.
"Kamu sekolah di SD N Tempursari kan?" tanyaku dengan memalingkan wajah ke arahnya.
"Iya kak, tapi tahun ajaran nanti aku di panti asuhan sama kakaku" ungkapnya dengan wajah yang terbersit kesedihan.
"Orang tua tidak kuat membiayai sekolahku" jawabnya singkat dengan kepala yang bersandar satu tembok sandaran tubuhku.
"Ya gak mampu bayar uang komputer 168.000 rupiah pertahun. Jadi, aku masuk panti asuhan biar tetap bisa sekolah." pangkasnya lirih.
Kami berdua yang tahu dan dengar apa yang kami bicarakan meskipun di sekitar kami banyak teman-teman.
"Oh gitu, yang penting kamu masih tetap sekolah to walaupun tinggal di panti asuhan" tegasku lagi.
Anggukan kepalanya menjawab pertanyaanku yang bukan terakhir kalinya. Perpisahan bukan berarti berhenti saat itu juga. Tapi akan lahir pertemuan-pertemuan mendatang. Satu kalimat yang mewakili ungkapan mereka "Tuhan mengijinkanku hidup, mengapa Negaraku mengabaikan kehidupanku"
gambar. Sanggar Studio biru, desa Sengir, Prambanan
0 komentar:
Poskan Komentar