Sabtu, 04 Juni 2011

Happiness in 4

Ada bulan sabit di luar, seseorang menyampaikan kabar itu padaku saat ku santai duduk di ruang tamu. Memandangi teh yang berkolaborasi dengan butiran gula pasir di dalam gelas yang langsing bening. Duduk diam diatas meja bertaplak kusut.

"Ah, bohong mas ki" komentar ku.
Gelas itu terpandangi saja, mencari akal bagaimana isi air larutan teh dan gula segera habis tanpa masuk ke lambungku.

Untuk menghormati Pak Salim yang menyuguhkannya, saya teguk tanpa rasa saja air teh itu hingga bersisa seperempat saja.

Setelah berpamitan dengan Pak Salim bersama ketiga teman pria, kami keluar rumah beliau. "Mana-mana bulan sabitnya ah bohong mas Mumu" sambil berjalan memperbanyak langkah ke depan.
"Coba maju lagi jangan disitu ya ndak kelihatan" terucap dari mulut Paman Dori yang berada di samping kiri.

Menginjak-injakkan kaki ke tanah yang tandus namun menyimpan kehidupan sederhana.
"Wow, bagus banget bulannya, aku suka" teriakku di depan rumah beliau. Terlalu senangnya melihat bulan akan kembali merapat utuh.

Bulatan penuh menghambur jelas hitam abu-abu menemani bulan sabit yang memukau. Corak warna-warni yang romantis bukan karena terbawa suasana ini malam minggu. Bukan!!!!
Hitam-hitam halus mengelilingi tepiannya. Paduan putih dan kuning yang menjadi krem lembut memenuhi bentuk sabit.

Sepulang dari rumah beliau, kami melewati persawahan yang penuh akar-akar padi berdiri tegak dan menghabiskan sisa hidupnya. Ribuan kunang-kunang menari-nari di pucuk tanaman padi yang mulai rapuh batangnya. I saw the beauty of night.

Dan kembali teringat kepada seseorang yang mengejarku di senja hari untuk menenangkanku bahwa semua akan baik-baik saja.

Dad, selamat ulang tahun. Kalo hp di tangan, ku kan memberi tahu bahwa bulan di malam ini sangat cantik. Secantik kasihmu pada anakmu.

0 komentar:

Poskan Komentar