
Galau. Itu satu kondisi yang menelanjangi semangat saya kemarin. Senja sudah berlalu entah esok akan datang seperti hari ini atau tidak. Senja tidak pernah setia pada saya. Mengapa? Karena setiap hari wajah yang dia suguhkan pada saya selalu berbeda. Giliran malam yang memporak-porakndakan rencana pagi saya yang belum terlaksana.
Selangkah keluar dari kamar tidak ada perjanjian dengan helaian-helaian pirang yang selalu mengikuti kemana saya pergi. Bahkan saya sangat sebal ketika angin datang menyapa saya, memeluk otot-otot tubuh dan kemudian bersendau-gurau dengan dia. Sehingga wajah saya terlihat aneh, sangat aneh. Dia sesukanya mengikuti angin pergi. Ya, hair. Bukan karena ingin tampil cantik atau apalah. Mengurangi beban saja sepertinya semakin panjang rambut, bertambah pula beban-beban mulai dari molekul-molekul kecil hingga yang berukuran besar.
"Mbak potong rambut" kata pelanggan sambil melepaskan sepatu plastiknya yang berongga-rongga di depan pintu.
"Oh, silahkan mbak" respon salah seorang pekerja salon yang beranjak bangun dari kursi dan menyiapkan tempat untuk keramas rambut pirang ini.
"Dikeramas dulu to, mbak?" ungkap gadis yang sebenarnya setengah hati masuk salon itu karena pekerja salon yang sudah mengerti selera potogan rambutnya tidak ada lagi.
Tiga menit ditinggalkan waktu.
"Duduk sini mbak" saran pekerja salon yang bermimik gelisah sambil berkali-kali memandangi jam yang tergantung di atas cermin.
"Mau potong seperti apa mbak?" ia tanya lagi sembari memasang kain biru tua bertekstur rata dan dingin.
"Itu, seperti gambar nomer 3" jawab si gadis sambil menunjukkan jari ke arah gambar yang di makud.
Kres....kres. Suara gunting yang berpostur langsing itu sudah meloloskan helaian-helaian rambut si gadis. Ada apa si ni mbak, gelagatnya buru-buru. slow down, mbak.
"Saya ini jam 17.30 mau ijin pulang dulu mbak" curhat singkat mbak, eh atau sekedar pemberitahuan pada wanita muda yang dari awal setengah hati untuk memangkas rambutya.
Tidak ada jawaban yang mengurai sedikitpun dari bibir si gadis.
Ah, benar terjadi. Kalau niat mau bekerja melayani pelangan yang konsisten dong, mbak.
Krees...kress.. gerakan-gerakan pelan tangan kanan dan kiri pekerja salon yang berbaju belang-belang warna hitam dan merah jambu itu membuat wajah tampak aneh.
Kenapa gaya rambut hasil sikap buru-buru pekerja salon mirip dengan seorang gadis yang 30menit tadi terlihat di koran online.
Tanggung. Tidak pendek dan bukan juga panjang. Tebal dan tipis menjadi mozaik ketidakteraturan di kepala. Menyulap wajah berubah sedemikian aneh dan kehilangan kekhasan. Semoga anak-anak saya kelak tidak seperti mbak, pekerja salon ini.
Setelah pulang dan melihat foto ini. Si belalang cantik, berpenampilan sederhana. Aksesorisnya juga sedikit. Kaya warna berbeda yang menjadikan beauty. Kesimpulanya: Doing everything with 100%.
Ket foto: itu foto belalang yang saya temui di puncak pos 1 gunung purba Nglanggeran, Gunung Kidul.
Selangkah keluar dari kamar tidak ada perjanjian dengan helaian-helaian pirang yang selalu mengikuti kemana saya pergi. Bahkan saya sangat sebal ketika angin datang menyapa saya, memeluk otot-otot tubuh dan kemudian bersendau-gurau dengan dia. Sehingga wajah saya terlihat aneh, sangat aneh. Dia sesukanya mengikuti angin pergi. Ya, hair. Bukan karena ingin tampil cantik atau apalah. Mengurangi beban saja sepertinya semakin panjang rambut, bertambah pula beban-beban mulai dari molekul-molekul kecil hingga yang berukuran besar.
"Mbak potong rambut" kata pelanggan sambil melepaskan sepatu plastiknya yang berongga-rongga di depan pintu.
"Oh, silahkan mbak" respon salah seorang pekerja salon yang beranjak bangun dari kursi dan menyiapkan tempat untuk keramas rambut pirang ini.
"Dikeramas dulu to, mbak?" ungkap gadis yang sebenarnya setengah hati masuk salon itu karena pekerja salon yang sudah mengerti selera potogan rambutnya tidak ada lagi.
Tiga menit ditinggalkan waktu.
"Duduk sini mbak" saran pekerja salon yang bermimik gelisah sambil berkali-kali memandangi jam yang tergantung di atas cermin.
"Mau potong seperti apa mbak?" ia tanya lagi sembari memasang kain biru tua bertekstur rata dan dingin.
"Itu, seperti gambar nomer 3" jawab si gadis sambil menunjukkan jari ke arah gambar yang di makud.
Kres....kres. Suara gunting yang berpostur langsing itu sudah meloloskan helaian-helaian rambut si gadis. Ada apa si ni mbak, gelagatnya buru-buru. slow down, mbak.
"Saya ini jam 17.30 mau ijin pulang dulu mbak" curhat singkat mbak, eh atau sekedar pemberitahuan pada wanita muda yang dari awal setengah hati untuk memangkas rambutya.
Tidak ada jawaban yang mengurai sedikitpun dari bibir si gadis.
Ah, benar terjadi. Kalau niat mau bekerja melayani pelangan yang konsisten dong, mbak.
Krees...kress.. gerakan-gerakan pelan tangan kanan dan kiri pekerja salon yang berbaju belang-belang warna hitam dan merah jambu itu membuat wajah tampak aneh.
Kenapa gaya rambut hasil sikap buru-buru pekerja salon mirip dengan seorang gadis yang 30menit tadi terlihat di koran online.
Tanggung. Tidak pendek dan bukan juga panjang. Tebal dan tipis menjadi mozaik ketidakteraturan di kepala. Menyulap wajah berubah sedemikian aneh dan kehilangan kekhasan. Semoga anak-anak saya kelak tidak seperti mbak, pekerja salon ini.
Setelah pulang dan melihat foto ini. Si belalang cantik, berpenampilan sederhana. Aksesorisnya juga sedikit. Kaya warna berbeda yang menjadikan beauty. Kesimpulanya: Doing everything with 100%.
Ket foto: itu foto belalang yang saya temui di puncak pos 1 gunung purba Nglanggeran, Gunung Kidul.
Itu satu kondisi yang menelanjangi semangat saya kemarin....
BalasHapusdingin donk jiwanya klo smangatnya telanjang ehhe
ya dingin kan habis keramas...
BalasHapus*gak nyambung ya jawabannya*